Dalam dunia pendidikan modern, kecerdasan akademis semata tidaklah cukup. Pembentukan karakter, etika, dan kesantunan merupakan fondasi utama yang menentukan keberhasilan murid di masa depan. Menjawab tantangan tersebut, SMP Buana Waru secara konsisten menginternalisasikan nilai-nilai budi pekerti mulia melalui Program Pembiasaan 5S, yaitu Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun. Langkah ini sejalan dengan visi dan misi SMP Buana Waru untuk mencetak generasi yang Religius, Berkarakter, Cendekia, dan Berprestasi.
Bagi seluruh warga sekolah, budaya 5S bukan sekadar slogan hiasan, melainkan napas dan kebiasaan yang dihidupkan setiap hari. Manifestasi kesantunan di SMP Buana Waru tercermin secara nyata melalui etika berinteraksi dengan para pendidik dan orang yang lebih tua. Kebiasaan ini dijaga kehalusannya, salah satunya melalui tradisi salim. Saat menyambut kedatangan murid di gerbang sekolah maupun ketika berpapasan di koridor, para murid dibiasakan untuk salim menggunakan kedua tangan dengan meletakkan telapak tangan Bapak/Ibu Guru tepat di bagian hidung secara santun. Gestur ini bukan sekadar formalitas, melainkan simbol rasa hormat yang mendalam serta bentuk permohonan keikhlasan dan keberkahan ilmu dari sang pendidik.
Selain tradisi salim, kesantunan gestur tubuh juga ditunjukkan melalui kebiasaan berjalan membungkukkan badan atau munduk-munduk. Ketika melintas di hadapan guru, staf, maupun tamu yang lebih tua, murid diajarkan untuk membungkukkan sedikit badan sebagai bentuk penghormatan atau ta’dzim. Tradisi luhur yang sarat akan kearifan lokal ini melatih kepekaan, kepedulian, dan kerendahan hati para murid di tengah era modernisasi yang rentan mengikis etika ketimuran.
Kesantunan di lingkungan SMP Buana Waru tidak hanya terpancar dari gestur tubuh, tetapi juga dari tutur kata. Dalam interaksi sehari-hari, baik sesama teman sebaya maupun antarjenjang kelas, murid dibiasakan menggunakan sapaan yang santun dan saling menghargai. Murid dibiasakan memanggil sesama teman atau kakak kelas dengan sebutan “Mas” untuk laki-laki dan “Mbak” untuk perempuan. Penggunaan sapaan resmi yang santun ini terbukti efektif mencegah tindakan bullying dan perundungan, sekaligus mengikis kebiasaan memanggil teman dengan sebutan kasar, julukan negatif, ataupun nama orang tua, sehingga terwujud lingkungan sekolah yang aman dan penuh kekeluargaan.
“Kesantunan bukan sekadar tentang tata krama, melainkan cermin kerendahan hati yang memuliakan ilmu dan menyatukan persaudaraan.”
Penulis : Lisa Amaliyah, S. Pd.I

Tinggalkan Balasan